Selasa, 22 April 2014

Untuk dikenang

Untuk merayakan Kartini, keponakanku yang sekarang sekolah di salah satu PAUD di Pacitan ikut pawai bersama semua teman sekolahnya. Jika sekolah lain memilih dress code busana daerah, sekolah keponakanku memilih dress code : baju dari bahan "sampah". Untuk keponakanku ini, adikku membuatkan baju "princess" berbahan tas kresek merah! Dan, bahan yang dibutuhkannya adalah kain hero 1,5 meter dan kresek merah besar 4 buah.

Setelah jadi, keponakanku seneng sekali memakainya. Apalagi setelah dikepalanya ditambahkan tiara. Sempurna sudah penampilan keponakanku sebagai princess. Keponakanku ini memang seneng sekali dengan segala hal yang berbau princess. Malah dia kalau sekolah gak mau lho pake seragam sekolah, karena kayanya seragam sekolahnya jelek. Dia hanya mau sekolah kalau pake rok panjang seperti princess hahaha. Bener-bener korban kartun kayaknya keponakanku yang centil ini.

Minggu, 20 April 2014

Membicarakan Pelecehan Seksual dengan Anak

Tak dapat dipungkiri bahwa kian hari para orangtua kian miris mendengar dan membaca berita tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak. Yang menjadi korban bukan saja anak-anak remaja, namun juga bayi yang baru berumur beberapa bulan! Pelakunya mulai dari orang yang tak dikenal, saudara dekat sampai ayah kandung korban.

Siapa tak miris mendengar seorang bayi yang jadi korban pelecehan seksual oleh ayah kandungnya sendiri? Siapa tak geram mendengar seorang anak mengalami pelecehan seksual di sekolahnya (yang diyakini mampu memberikan keamanan bagi murid-muridnya)? Siapa tak marah mendengar banyak anak yang menjadi korban pelecehan seksual orang tak dikenal yang telah dengan tega memajang foto-foto telanjang anak-anak itu di facebook?

Minggu, 13 April 2014

Ketika Anak Bermasalah Dengan Temannya

Aku yakin, setiap ibu (atau orangtua) pasti pernah mendengar pengaduan dari anak-anaknya bahwa mereka sedang punya masalah dengan teman-temannya. Bentuk 'masalah' yang dikeluhkan anak-anak itu bisa berupa dimusuhi, dijauhi, didiamkan, dihina, diejek atau malah disakiti secara fisik. Dan, aku hampir bisa memastikan bahwa saat ibu mendengar pengaduan anak-anaknya itu pasti muncul rasa sedih di hati. Ibu mana yang tidak sedih hatinya jika buah hatinya sedih atau malah disakiti oleh orang lain kan?

Aku pernah mengalaminya. Dulu, saat Shasa masih TK dia pernah mengadu bahwa ada temannya yang mengejeknya dan mengatainya "gajah" karena Shasa gemuk. Aku ingat sekali, saat itu Shasa malah sudah minta pindah sekolah karena tak suka dengan perlakuan teman-temannya itu. Aku sedih dan tak terima atas sikap teman-teman Shasa kala itu. Tapi satu hal kusadari, bahwa teman-teman Shasa pun tak menyadari jika sikap dan perkataan mereka menyakiti hati orang lain.

Rabu, 02 April 2014

Dikriminasi Pendidikan

Ini adalah sebuah kisah tentang 'diskriminasi pendidikan' di sebuah kota antah berantah. Aku mendengar kisah ini beberapa waktu yang lalu. Kisah perbedaan perlakuan dari dinas pendidikan terhadap sekolah swasta dan sekolah negeri. Terus terang saja, saat mendengar kisah itu aku ikut merasa prihatin, mengapa sampai sekarang diskriminasi pendidikan masih ada. Bedanya, jika seringkali yang mendapat perlakuan istimewa adalah sekolah-sekolah swasta yang menuntut biaya mahal, namun dalam kisah yang aku dengar kali ini adalah sebaliknya.

Oke, daripada berteka-teki lebih lama, aku akan langsung cerita saja. Jadi, di sebuah kota antah berantah ada sebuah sekolah swasta yang relatif baru, karena baru tahun ini akan meluluskan muridnya yang kini duduk di kelas 6 SD. Sekolah swasta (SD) itu didirikan dengan semangat untuk memberikan kesempatan pada murid-muridnya mengembangkan kemampuannya sebaik mungkin. Selain itu, SD itu juga mengusung semangat cinta pada alam dan lingkungan.